Marquez campeon kembali memperlihatkan bahwa kepalanya bekerja lebih cepat dari semua rival di lintasan. Marc Márquez (Ducati) mengatur rencana sebelum liburan: menekan di Balaton, mengulangi performa di Brno, bertahan di Assen, dan menghabisi lawan di Sachsenring—sirkuit yang ia sebut sebagai taman bermainnya.

Di Sachsenring, rencana itu berjalan hampir sempurna. Márquez merebut catatan waktu tercepat, tampil di baris pertama, menang di lomba sprint dan GP utama, serta mengantongi 37 poin—target ganda yang ia pasang untuk akhir pekan itu. Hasil itu membuatnya meraih tiga kemenangan dalam empat seri terakhir dan melonjak ke posisi ketiga klasemen sementara.
Marquez Campeon dalam Sorotan Publik
Tim dan pembalap tampak menjalankan rencana yang disusun sejak jauh hari. Márquez mengakui ia telah menyiapkan langkah-langkah spesifik untuk setiap sirkuit setelah jeda, termasuk upaya menorehkan rekor terakhir kelas 1000 cc di Sachsenring. “Saya ingin mengukir rekor terakhir mesin ‘seribu’ di sirkuit favorit saya, jadi saya meminta tim pada Jumat malam untuk menyiapkan tiga ban belakang agar bisa melakukan tiga percobaan. Saya tidak mau gagal,” ujarnya.
Keberhasilan itu bukan semata kompatibilitas motor, tetapi juga persiapan teknis dan organisasi tim. Meskipun kepala teknis Ducati, Gigi Dall’Igna, tidak hadir langsung di Sachsenring dan memantau dari kapal, tim di lintasan memastikan segala sesuatunya berjalan lancar. Seusai kemenangan, Davide Tardozzi, manajer tim Lenovo Ducati, kerap menyerahkan ponselnya ke Márquez agar Dall’Igna bisa menyampaikan ucapan selamat melalui sambungan jarak jauh.
Perubahan format grid dan keuntungan Márquez
Sachsenring memperkenalkan tata letak baru posisi mesin di grid start, yakni jarak antar baris yang lebih lebar. Perubahan itu membuat posisi bukan pole menjadi lebih jauh dari garis terdepan ketika lampu padam. Keberhasilan Márquez mengamankan pole memberi keuntungan besar; ia tiba secara nyaman di tikungan pertama baik pada sprint maupun pada balapan utama.
Langkah-langkah kecil seperti permintaan ban ekstra dan pemahaman akan tata letak grid baru menjadi pembeda yang tak dipunyai banyak rival. Hasilnya terlihat: Márquez menyelesaikan akhir pekan dengan otoritas yang hampir mengesankan, sembari terus menunjukkan adaptasi pada karakter beragam sirkuit.
Reaksi rival dan suasana di paddock
Penampilan Márquez telah mengubah dinamika persaingan. Jorge Martín, yang kini memimpin klasemen, mengakui bahwa posisi puncak yang diraihnya mungkin tak akan bertahan lama jika performanya terus seperti saat itu. “Kepemimpinan saya akan singkat jika saya terus berkendara seperti ini. Saya lebih pemimpin karena kesalahan orang lain ketimbang karena merit saya sendiri. Saya sudah bilang ke Aprilia agar tak bereksperimen lagi,” katanya setelah meninggalkan Jerman.
Francesco Bagnaia juga menilai Márquez sebagai favorit utama. “Menurut saya, Marc kembali jadi kandidat kuat untuk merebut gelar. Ducati memang belum sempurna, tapi kami semakin mendekati Aprilia, dan yang menang adalah Marc, yang selalu membuat perbedaan,” ujarnya. Pedro Acosta, calon rekan setim Márquez di Lenovo Ducati pada 2027-28, berkomentar santai namun penuh percaya diri bahwa Márquez terlihat seperti nomor satu saat ini.
Proyeksi musim dan faktor cedera
Dominasi Márquez selama empat seri terakhir—hanya Ai Ogura yang mampu sedikit mengikuti ritmenya—membuat pesaing menilai peluang gelar musim ini bisa saja berpihak padanya jika kondisinya terus membaik. Meski masih dalam proses pemulihan dari cedera pada bahu kanan, tim mengharapkan ia dapat pulih lebih lanjut saat jeda kompetisi sehingga kembali lebih kuat.
Sementara itu, kondisi pesaing juga memengaruhi lanskap klasemen. Marco Bezzecchi menjalani operasi di Sassuolo oleh dokter yang kerap menangani pembalap-pembalap asal Italia dan dijadwalkan kembali pada putaran di Silverstone. Absennya pesaing-pesaing yang mengalami masalah fisik atau teknis memberi ruang bagi Márquez untuk memangkas selisih poin dan bahkan mengambil alih posisi dalam perebutan gelar.
Di paddock, komentar dari pihak tim dan rival sama-sama memandang Márquez sebagai ancaman nyata. Davide Tardozzi memuji konsistensi dan kemampuan adaptasi sang pembalap: “Marc terus membuat saya takjub. Ia belum sepenuhnya pulih dari bahunya, semoga kembali dari liburan makin kuat. Semua yang dilakukan Marc benar-benar mengagumkan. Masih ada banyak balapan, tapi saya melihatnya sebagai kandidat jelas juara,” katanya.
Dengan jeda musim tiba, momentum Márquez dan respons tim Ducati terhadap kekurangan yang masih ada akan menjadi penentu bagaimana paruh kedua musim berjalan. Yang pasti, setelah akhir pekan di Sachsenring, suasana kompetisi MotoGP kian memanas dan para pesaing sadar ada sosok yang kembali menebar ancaman nyata untuk gelar.
