Stasiun pengisian pintar untuk mobil listrik dinilai sangat rentan terhadap serangan peretas. Peningkatan fitur yang membuat pengisian lebih modern dan nyaman juga membuka celah teknis yang dapat dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab.

Meski beberapa pembuat mobil listrik menunjukkan angka penjualan yang positif belakangan ini, pasar kendaraan listrik masih dalam tahap awal dan ketersediaan titik pengisian terus menjadi salah satu kendala. Generasi baru stasiun pengisian yang dilengkapi fungsi pengawasan lewat ponsel, penjadwalan pengisian, atau pembayaran tanpa sentuh justru mendapat sorotan terkait keamanan.
Ancaman pada stasiun pengisian pintar
Analis keamanan Ofer Shezaf memperingatkan bahwa stasiun pengisian pintar dapat menjadi sasaran empuk bagi peretas. Menurut penilaian tersebut, pengambilalihan perangkat pengisian tidak hanya memungkinkan akses ke fungsi dasar tetapi juga membuka kemungkinan akses ke informasi sensitif dan sistem yang lebih luas.
Fitur pintar yang menjadi celah
Perangkat pengisian modern dirancang untuk memberi kemudahan lewat pemantauan dan pengaturan pengisian via aplikasi smartphone serta opsi pembayaran dengan kartu nirsentuh. Fitur-fitur ini mengandalkan konektivitas dan integrasi sistem pembayaran, yang, sebagaimana diungkapkan analis, bisa menjadi titik lemah jika keamanan tidak ditangani secara ketat.
Baca juga: Record July Deliveries: XPeng Cetak Rekor Pengiriman Juli tapi Saham Tetap Terjebak Downtrend
Potensi dampak pada login dan pembayaran
Shezaf menyoroti bahwa peretas yang berhasil mengeksploitasi kerentanan pada stasiun pengisian pintar berpotensi mendapatkan akses ke data login pengguna dan informasi pembayaran. Akses semacam itu dapat berujung pada pencurian identitas, penyalahgunaan pembayaran, atau gangguan layanan yang mengganggu pengalaman pengguna kendaraan listrik.
Risiko terhadap infrastruktur kota dan utilitas
Lebih jauh lagi, ancaman tidak hanya terbatas pada unit pengisian individu. Analis tersebut mengingatkan kemungkinan peretas menembus sistem yang menjalankan jaringan pengisian, termasuk platform yang dikelola oleh pihak utilitas atau otoritas kota. Bila terjadi, upaya peretasan bisa berdampak pada operasi jaringan dan ketersediaan layanan di wilayah yang lebih luas.
Pernyataan ini menempatkan perhatian pada hubungan antara perangkat pengisian yang terhubung dan infrastruktur yang lebih besar. Keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa celah pada satu komponen jaringan dapat memiliki konsekuensi yang meluas jika tidak ditangani dengan serius.
Analisis yang berkembang ini menjadi pengingat bahwa integrasi teknologi pintar pada fasilitas publik dan komersial membawa tanggung jawab keamanan yang sejalan. Dalam konteks kendaraan listrik, memperluas jumlah titik pengisian sekaligus menjaga standar keamanan menjadi isu yang perlu mendapat perhatian dari pihak pengelola, penyedia layanan, dan pembuat kebijakan.
Informasi dari analis keamanan ini menambah dimensi baru pada perdebatan mengenai percepatan adopsi kendaraan listrik: selain memperluas infrastruktur, perhatian pada aspek keamanan siber juga menjadi bagian penting untuk memastikan keandalan dan kepercayaan terhadap ekosistem pengisian.
